Bunga Desa Pada Masa Kini


Istilah Bunga Desa menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah gadis perawan yg disenangi pemuda karena kecantikannya di desa tempat tinggalnya.

Pada tahun 70-80an para lelaki yang tinggal di kota sangat menggemari bunga desa. Mereka berduyun-duyun mencari gadis-gadis desa untuk dinikahi. Karena selain kecantikannya, gadis dari desa itu terkenal karena kesopanannya, keluguannya, ibadahnya dan keuletannya dalam melakukan pekerjaan rumah tangga. Bahkan pada tahun 1988, pernah dibuat film mengenai bunga desa yang diperankan oleh Rhoma Irama.

Transisi zaman mulai berubah, teknologi semakin maju, radio mulai digantikan oleh televisi. Pada tahun 90an masyarakat sudah mulai seluruhnya memiliki TV sebagai media hiburan. Acara TV pada tahun itu kerap menampilkan acara yang "kekota-kotaan". Tingkat intelektualitas dan tingkat pendidikan masyarakat desa yang rendah mengakibatkan segala informasi dari TV langsung dicerna. Akibatnya, pada dekade itu banyak gadis desa mulai nampak seperti gadis kota: berpakaian seksi, rambut di cat, dsb.

Pada tahun 2000an, akses ke teknologi semakin murah dan mudah didapatkan. Handphone pada dekade itu sudah bisa dimiliki oleh semua orang. Akses internet pada dekade 2000an sudah mulai mudah di akses hingga ke pedesaan. VCD dan DVD bajakan dekade itu mulai gampang didapat dimana-mana. Selain dampak positif dari teknologi tersebut, dampak negatifnya juga merebak hingga pedesaan. Contohnya seperti akses terhadap pornografi semakin mudah.

Pada tahun 2000an, pacaran itu menjadi hal yang lumrah di kalangan remaja. Para pemuda dan gadis desa banyak yang mulai berpacaran dan sering keluar malam hanya untuk berdua-duaan di tempat gelap. Contohnya seperti di pantai, di kebun teh, atau di pematang sawah. Akibatnya banyak gadis desa yang sudah "bukan bunga desa" lagi karena sudah tidak perawan.

Yang berbahayanya lagi jika gadis-gadis desa itu pergi ke kota besar, baik untuk sekolah atau untuk bekerja. Dengan pola didik dan pola asuh yang seadanya, ditambah dengan kecantikan dan kepolosannya, gadis-gadis tersebut mudah terjerumus ke hal-hal yang berbahaya seperti narkoba dan sex bebas.

Dan sekarang pada dekade 2010an, langka sekali mencari gadis desa seperti pada tahun 70-80an itu. Bagaikan mencari jarum dalam jerami, untuk mendapatkan gadis cantik, lugu, dan baik hati itu sudah sulit sekali. Alangkah beruntungnya bagi sang lelaki yang mendapatkan bunga desa pada masa kini.

Saya sebagai penulis tinggal di desa kecil di jawa barat, dimana transisi prilaku gadis-gadis desa zaman dulu dan zaman sekarang terasa sekali perubahannya. Apakah ini akhir zaman? Wallahu'alam.

0 Komentar:

Poskan Komentar