Cara Menjadi Dokter di Indonesia (Part 1)

Masih banyak masyarakat di Indonesia beranggapan bahwa dokter adalah salah satu profesi yang memiliki penghasilan yang besar. Oleh karena itu, tidaklah mengherankan jika fakultas kedokteran (FK) merupakan fakultas paling favorit di Indonesia; baik para siswa SMA yang baru lulus, maupun para orang tuanya, berlomba-lomba untuk bisa masuk ke fakultas ini.

Untuk mengetahui bagaimana proses untuk menjadi dokter di Indonesia dari mulai masuk FK hingga menjadi dokter, berikut adalah step by step-nya:

Pada part 1 ini, saya akan menjelaskan masalah teknis dan persiapan sebelum masuk ke FK. Semoga bermanfaat.


Sudah siap?
Sebelum teman-teman ingin mendaftar masuk ke FK, yang pertama harus teman-teman pertimbangkan adalah kesanggupan, dedikasi, biaya, dan waktu untuk menempuh pendidikan tersebut.

Teman-teman harus menempuh proses pendidikan yang memakan waktu kurang lebih 6 tahun. Semua proses tersebut harus dilalui dengan tingkat stess yang tinggi dan jam tidur yang minim.

Belum lagi nanti, teman-teman harus siap gigit jari menunggu nasib hingga lulus. Harus siap melihat teman-teman SMA yang masuk ke fakultas lain sudah mapan dan menikah "duluan" dibandingkan teman-teman yang masih kuliah saat itu. Yakin? Sudah siap?


Siapkan budget
Hal paling penting yang harus dipertimbangkan oleh teman-teman sebelum masuk FK adalah masalah budget. Biaya pendidikan selama kuliah di FK selama 6 tahun cukup menguras banyak dana—terutama jika teman-teman masuk universitas swasta yang notabene biayanya mahal sekali.

Teman-teman usahakan untuk bisa masuk ke universitas negeri karena biaya pendidikannya tidak "mencekik" seperti universitas swasta. Bahkan dengan jalur beasiswa, biaya pendidikannya bisa menjadi gratis.

Untuk universitas swasta, biaya masuknya saja bisa berkisar antara 100-300 juta rupiah tergantung universitas, gelombang saat testing, dan jalur yang diambil (jalur khusus, jalur reguler, jalur beasiswa, dsb). Biaya tersebut baru untuk biaya masuknya saja, belum ditambah dengan biaya semester dan biaya pendidikan lainnya seperti membeli buku, fotokopi, atau print tugas.

Selain itu, biaya bulanan teman-teman juga harus ikut diperhitungkan selama menempuh pendidikan. Contohnya seperti uang kos, uang makan, uang transport, dsb.

Sebagai contoh, berikut adalah ilustrasi biaya kuliah di fakultas kedokteran swasta selama 6 tahun:
  • Biaya masuk: Rp 200 juta
  • Biaya membeli buku: Rp 1 juta rupiah
  • Biaya semester: Rp 20 juta x 12 semester = Rp 240 juta
  • Biaya bulanan: Rp 2 juta x 12 bulan x 6 tahun = Rp 144 juta
  • Total biaya 6 tahun kuliah: Rp 585 juta



Gelar dokter
Ketika teman-teman nanti lulus dari FK, teman-teman akan menjadi "dokter umum" dengan gelar dokter (dr.). Bedakan dengan gelar S3, yaitu doktor (Dr.).

Untuk melanjutkan menjadi dokter spesialis, setelah selesai pendidikan dokter umum, teman-teman harus melanjutkan lagi sekolah dengan mengambil Program Pendidikan Dokter Spesalis (PPDS) yang ditempuh selama 3-6 tahun tergantung program spesialis yang diambil.

Program spesialis atau PPDS ini hanya ada di universitas negeri tertentu saja. Sehingga untuk menjadi dokter spesialis, persaingannya lebih ketat dibandingkan ketika menjadi dokter umum. Harus siap bersaing dengan ribuan dokter umum dari seluruh Indonesia.


Memilih fakultas kedokteran
Menurut data dari Konsil Kedokteran Indonesia (KKI) pada tahun 2015, di Indonesia terdapat 75 fakultas kedokteran yang terdiri dari 33 fakultas negeri dan 42 fakultas swasta yang tersebar di berbagai provinsi di Indonesia.

Data tersebut bisa teman-teman gunakan untuk memilah-milih fakultas kedokteran yang sesuai dengan keinginan dan budget teman-teman. Usahakan untuk mendaftar ke universitas negeri terlebih dahulu karena lebih murah dan lebih terjamin kualitas pendidikannya. Selanjutnya bila gagal diterima, barulah buat plan B untuk memilih ke universitas swasta.

Hati-hati dalam memilih fakultas kedokteran di universitas swasta. Usahakan fakultas kedokterannya sudah memiliki alumni dan terakreditasi. Karena pernah ada kasus fakultas kedokteran di salah satu universitas swasta ditutup karena tidak memenuhi syarat sehingga mahasiswanya dikeluarkan dan harus mengulang dari nol lagi di universitas yang lain.

Jangan lupa juga untuk mempertimbangkan lokasi universitas yang akan dipilih. Hal ini menjadi pertimbangan jika teman-teman ingin pulang kampung disaat musim liburan. Makin jauh kampusnya dari rumah, makin mahal ongkos mudiknya.

Selain itu, jika memilih universitas yang berada di kota besar, biaya bulanannya juga tentu akan berbeda dengan dengan universitas yang berada di kota kecil. Uang makan dan uang rekreasinya tentu akan berbeda.


Alur pendidikan di fakultas kedokteran

Alur pendidikan di fakultas kedokteran secara garis besar dibagi menjadi dua. Pertama, pendidikan sarjana, yang disebut juga pendidikan preklinik; Kedua, pendidikan profesi, yang disebut juga pendidikan kepaniteraan.

Pendidikan preklinik
Pendidikan preklinik ditempuh kurang lebih selama 3,5 tahun atau 7 semester. Pendidikan preklinik biasanya hanya ditempuh di lingkungan kampus saja dan berfokus pada materi kedokteran secara teoritis.

Dibagian akhir nanti, akan ada skripsi yang harus dibuat sebagai syarat lulus untuk menyelesaikan S1 dan mendapatkan gelar Sarjana Kedokteran (S.Ked). Setelah mendapatkan gelar S.Ked, setiap mahasiswa bisa memilih untuk melanjutkan lagi pendidikan profesi atau bisa juga mengambil karir dijalur lain selain medis.

Pendidikan kepaniteraan
Untuk meneruskan karir sebagai dokter, teman-teman harus melanjutkan ke pendidikan profesi, yang disebut dengan "pendidikan kepaniteraan" yang ditempuh selama kurang lebih 2 tahun di rumah sakit dan puskesmas yang sudah bekerja sama dengan universitas. Kepaniteraan ini istilah kerennya adalah Co-Assistant (Co-As), atau lebih dikenal di Indonesia dengan istilah "koas".

UKDI dan Internsip
Setelah selesai menjalani koas, teman-teman harus mengikuti Uji Kompetensi Dokter Indonesia (UKDI). Tujuannya adalah untuk merubah gelar Sarjana Kedokteran (S.Ked) menjadi gelar dokter (dr.). UKDI ini merupakan ujian tersulit bagi setiap mahasiswa untuk menjadi dokter.

Perlu diperhatikan bahwa setelah lulus dan mendapatkan gelar dokter (dr.), teman-teman masih belum bisa bekerja dan praktek sebagai dokter karena harus mengikuti program Internsip (internship) dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes) selama 1 tahun. Internsip merupakan program yang mengharuskan setiap dokter yang baru lulus mencari pengalaman kerja di rumah sakit dan puskesmas tertentu, yang sudah ditunjuk oleh Kemenkes, yang tersebar di seluruh daerah di Indonesia. Tujuannya adalah untuk mendapatkan Surat Tanda Registrasi (STR) dari Konsil Kedokteran Indonesia KKI (KKI) sebagai syarat untuk bisa praktek kerja.


Memahami kurikulum di fakultas kedokteran
Program pendidikan dokter umum di Indonesia menerapkan sistem Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK). Kurikulum ini mengharuskan mahasiswa lebih aktif dalam belajar. Dosen hanya menjadi pembimbing dan mengarahkan mahasiswa dalam belajar.

Sistem kuliah pada KBK menggunakan sistem "blok", dimana dalam setiap satu blok, mahasiswa harus mengikuti kegiatan perkuliahan yang terdiri dari:
  • kuliah tatap muka
  • praktikum
  • clinical skill
  • problem based learning (PBL)
  • ujian dan remedial
Setiap universitas memiliki perbedaan kebijakan dalam menentukan waktu tempuh dan jumlah SKS di setiap bloknya. Rata-rata dalam satu semester setiap mahasiswa harus menjalani antara 2-6 sistem blok. Setiap satu bloknya terdiri dari 2-8 Satuan Kredit Semester (SKS), yang harus ditempuh antara 4-8 minggu.

Sebagai contoh, misalnya pada semester 5, mahasiswa harus menempuh 3 blok yang terdiri dari blok kardiovaskular, blok muskuloskeletal, dan blok neurologi. Setiap blok tersebut harus ditempuh selama 8 minggu.

Sistem blok ini hanya terdapat pada saat perkuliahan kedokteran sarjana S1 saja. Ketika koas nanti, sistem perkuliahannya agak berbeda karena langsung terjun ke RS dan Puskesmas.


Bersambung...
Cara Menjadi Dokter di Indonesia (Part 2)




Kata kunci
cara jadi dokter, pengen jadi dokter, cara daftar ke fakultas kedokteran, daftar fakultas kedokteran, dokter umum, jadi dokter umum, syarat jadi dokter, proses jadi dokter.


0 Komentar:

Poskan Komentar