Cara Menjadi Dokter di Indonesia (Part 2)


Di Indonesia, banyak masyarakat beranggapan bahwa dokter adalah salah satu profesi yang memiliki penghasilan yang besar. Oleh karena itu, tidaklah mengherankan jika fakultas kedokteran (FK) merupakan fakultas yang paling favorit di Indonesia. Baik para siswa SMA yang baru lulus, maupun para orang tua, berlomba-lomba untuk bisa masuk ke fakultas ini.

Untuk mengetahui bagaimana proses untuk menjadi dokter di Indonesia dari mulai masuk FK hingga menjadi dokter, berikut adalah step by step-nya:

Pada part 1, saya sudah membahas mengenai cara masuk ke fakultas kedokteran dan alur pendidikan dokter di Indonesia. Selanjutnya pada part 2 ini, saya akan membahas mengenai proses pendidikan preklinik di fakultas kedokteran. Semoga bermanfaat.


Kuliah tatap muka

Jumlah kuliah tatap muka pada sistem KBK lebih sedikit dibandingkan kurikulum kedokteran sebelum KBK. Pada kurikulum KBK, mahasiswa dituntut lebih aktif dalam belajar. Dosen hanya berperan sebagai pembimbing dan mengarahkan kepada para mahasiswa apa saja yang harus dipelajari.

Gelar dosen yang memberikan kuliah tatap muka di fakultas kedokteran rata-rata adalah dokter spesialis hingga dokter yang sudah profesor. Untuk dosen yang masih dokter umum, biasanya hanya menjadi pembimbing pada clinical skill dan problem based learning.

Kuliah dilaksanakan di dalam kelas besar dengan metode presentasi menggunakan proyektor. Materi kuliah biasanya akan diberikan oleh dosen pembimbing dalam bentuk softcopy dalam format ptt atau pdf sebagai materi belajar. Selanjutnya dosen akan mengarahkan mahasiswa untuk belajar dari buku-buku yang direkomendasikan oleh dosen.


Praktikum

Praktikum mengharuskan mahasiswa ke laboratorium untuk praktek medis langsung. Misalnya pada praktikum anatomi, para mahasiswa harus belajar mengenai anggota tubuh pada mayat yang sudah disediakan; Pada praktikum histologi dan patologi anatomi para mahasiswa harus meneliti sel-sel melalui mikroskop; Pada praktikum mikrobiologi dan parasitologi, para mahasiswa harus meneliti bakteri, virus, dan parasit penyebab penyakit pada manusia; dsb.

Setiap blok rata-rata terdiri dari beberapa praktikum. Ada blok yang hanya terdiri dari 2 praktikum, ada juga blok yang bisa sampai 9 praktikum, tergantung jenis dan jumlah SKS dari blok itu sendiri.

Berikut adalah materi praktikum yang harus diikuti:
  • Anatomi
  • Histologi
  • Mikrobiologi
  • Parasitologi
  • Patologi Anatomi
  • Farmakologi
  • Patologi Klinik
  • Fisiologi
  • Biokimia

Clinical Skill

Perkuliahan clinical skill mengharuskan para mahasiswa untuk belajar keterampilan medis. Contohnya seperti keterampilan menyuntik, membalut luka, merawat luka, dsb yang dilakukan terhadap manequin atau probandus. Setiap satu pertemuan clinical skill rata-rata dilakukan selama 1-4 jam, tergantung jenis clinical skill-nya.

Biasanya, para mahasiswa akan dibagi menjadi beberapa kelompok kecil. Misalnya, dari 100 orang total mahasiswa, akan dibagi menjadi 10 kelompok kecil yang terdiri dari 10 orang untuk mengikuti clinical skill dan problem based learning.

Dalam satu blok, bisa terdiri dari beberapa clinical skill, bisa antara 3-9 clinical skill per bloknya. Sebagai contoh misalnya pada blok cardiovaskular, para mahasiswa harus bisa keterampilan medis menyuntik, mengambil darah, analisa darah, pemasangan EKG, dsb. Setiap clinical skill tersebut akan diujiankan setiap akhir blok.


Problem based learning

Perkuliahan problem based learning mengharuskan para siswa untuk memecahkan kasus medis yang didiskusikan secara kelompok. Perkuliahan problem based learning, sama seperti clinical skill, diikuti oleh kelompok kecil yang sudah dibagi dari seluruh mahasiswa. Dalam satu blok biasanya terdiri dari 2-3 kasus problem based learning.

Setiap 1 kasus medis terdiri dari beberapa kali "pertemuan tatap muka" antara dosen dan kelompok mahasiswa. Pertemuan pertama mengharuskan para mahasiswa untuk memecahkan suatu kasus medis yang dibuat dalam beberapa pertanyaan. Pertanyaan tersebut nanti akan dipecahkan pada pertemuan kedua. Selanjutnya hasil diskusi kasus tersebut akan dipresentasikan dalam rapat pleno besar yang dihadiri oleh para dosen, guru besar, dan profesor serta diikuti oleh seluruh mahasiswa.


Ujian dan remedial

Pada setiap akhir blok, akan ada minggu ujian, dimana semua materi yang sudah dipelajari selama satu blok akan diujikan. Mulai dari ujian tulis, ujian praktikum, hingga ujian clinical skill. Banyak mahasiswa yang belajar mati-matian dan begadang hingga larut malam agar menghindari remedial dan bisa lulus ujian blok.

Kebijakan remedial berbeda-beda di setiap universitas. Ada yang mengadakan remedial, ada pun yang tidak mengadakan remedial. Jadi, persiapan sebelum ujian haruslah sangat matang, terlebih lagi jika universitasnya tidak mengadakan remedial.

Jika gagal pada saat ujian dan remedial, maka mahasiswa tersebut dianggap tidak lulus blok. Nantinya, mahasiswa yang tidak lulus tersebut harus mengulang sistem setelah menyelesaikan perkuliahan selama 7 semester.

Akibatnya, jika tidak lulus blok, bisa menghambat untuk lulus tepat waktu. Yang mestinya selesai 7 semester, bisa bertambah menjadi 8 hingga 10 semester tergantung berapa banyak blok yang tidak lulus.


Skripsi

Setelah akhir masa kuliah, para masiswa di fakultas kedokteran harus melakukan skripsi seperti mahasiswa sarjana yang lain. Skripsi di fakultas kedokteran membahas antara penelitian sederhana mengenai kesehatan

Kebijakan mengikuti skripsi ini berbeda-beda. Rata-rata setiap kampus mengharuskan para mahasiswa untuk lulus semua sistem blok. Akan tetapi, ada juga universitas yang memperbolehkan mahasiswa yang belum lulus ujian blok untuk mengikuti skripsi, adapun yang tidak memperbolehkan, tergantung kebijakan dari universitas masing-masing.


Lulus S1 fakultas kedokteran


Setelah menyelesaikan pendidikan preklinik dan dinyatakan lulus dari semua blok, dan telah menyelesaikan skripsi di akhir waktu pendidikan, para mahasiswa akan di angkat sumpah dan di wisuda untuk mendapatkan gelar Sarjana Kedokteran (S.Ked). Selanjutnya, para mahasiswa bisa meneruskan "pendidikan kepaniteraan" selama 2 tahun untuk mendapatkan gelar dokter (dr.).


Bersambung...
Cara Menjadi Dokter di Indonesia (Part 3)


Kata kunci
cara jadi dokter, pengen jadi dokter, cara daftar ke fakultas kedokteran, daftar fakultas kedokteran, dokter umum, jadi dokter umum.



0 Komentar:

Poskan Komentar