Tampilkan postingan dengan label Lomba. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Lomba. Tampilkan semua postingan

Gambar dari Canva (royalty-free license)

Di era modern yang penuh dengan perubahan dan kemajuan, berbagai aspek kehidupan pun turut bertransformasi. Salah satu fenomena sosial yang menarik untuk dikaji adalah fenomena orang-orang yang "beragama tapi ateis".


Fenomena ini setiap tahun semakin banyak terjadi di masyarakat kita dan sangat berdampak kepada perilaku sosial masyarakat. Oleh karena itulah, saya menulis artikel ini untuk melihat masalah sosial ini dari berbagai sudut pandang.


Artikel yang saya tulis ini diikutkan dalam lomba menulis blog yang diadakan oleh Universitas Negeri Yogyakarta (UMY) pada bulan Mei 2024. Semoga tulisan saya ini bisa mencerahkan pembaca sekalian.



Islam KTP

Gambar dari Canva (royalty-free license)

Bagi teman-teman muslim, kalian tentu tidak asing dengan istilah “Islam KTP”. Istilah ini merujuk kepada orang yang beragama Islam, tapi hanya sebatas di Kartu Tanda Penduduk (KTP) saja. Dalam kesehariannya, orang tersebut tidak menjalankan syariat Islam seperti salat, puasa, zakat, sedekah, dsb.


Fenomena ini bukan hanya terjadi di Indonesia dan di agama Islam saja, tapi terjadi pada semua agama yang ada di seluruh dunia; Katolik, Hindu, Budha, Konghucu, Yahudi, dsb.


Orang-orang ini beragama, tapi hanya sebatas tanda pengenal saja. Kelakuan mereka sehari-hari seperti orang ateis pada umumnya, tidak beribadah. Oleh karena itulah, orang-orang ini bisa dibilang beragama, tapi ateis. Mereka beriman dan percaya akan adanya tuhan, tapi untuk urusan taat terhadap aturan agama dan mengerjakan ibadah yang diperintahkan oleh agama, mereka tidak peduli.


Yang lebih memprihatinkan, fenomena orang-orang seperti ini jumlahnya terus bertambah setiap tahunnya. Fenomena ini bisa kita lihat sendiri dengan mudah di tempat-tempat ibadah yang mulai sepi jemaah.


Bagi teman-teman muslim, kita bisa lihat sendiri bagaimana sepinya masjid sejak beberapa tahun ke belakang. Orang yang salat ke masjid hanya orang itu-itu saja, yang rata-rata mereka ini sudah sepuh dan berumur. Mereka yang berusia dibawah 30 tahun bisa dihitung jari di dalam masjid. Jika diibaratkan sepak bola, pergantian pemainnya tidak sebanding antara pemain muda dengan pemain inti yang sudah mau pensiun dan tutup umur.


Begitupun juga angka kunjungan ke gereja. Menurut data statistik dari Churchtrac di Amerika, angka kunjungan mingguan umat nasrani ke gereja turun 12% sejak tahun 2000. Tren penurunan ini pun terjadi di tempat-tempat ibadah lainnya, seperti pura dan vihara.



Lain dulu lain sekarang

Gambar dari Canva (royalty-free license)

Jika kita lihat orang tua kita dulu, kakek nenek kita, buyut buyut kita, mereka adalah pribadi yang rajin ibadah. Mengapa orang zaman dulu lebih rajin ibadah dibanding orang zaman sekarang?


Zaman dulu itu segala serba susah; perang dimana-mana, bahan pangan serba susah, ekonomi serba susah. Penyakit ringan seperti tipes (demam tifoid) pun, bisa membuat orang meninggal. Belum lagi, mereka merasakan hidup di zaman penjajahan dimana kebebasan diri itu sangatlah terbatas.


Kehidupan zaman dulu penuh dengan ketidakpastian dan bahaya. Agama memberikan rasa aman dan kepastian dalam menghadapi situasi-situasi sulit. Keyakinan akan adanya kekuatan yang lebih besar dari diri manusia memberikan kekuatan dan harapan. Kita bisa melihat contohnya pada diri kita sendiri ketika kita sedang susah, sedang sakit, sedang bangkrut tak punya uang, sedang depresi oleh rasa sedih, maka kita akan lebih mudah mengingat tuhan, begitupun dengan masyarakat zaman dahulu.


Lain halnya dengan zaman sekarang yang serba mudah. Zaman sudah damai tidak ada peperangan yang menyusahkan; bahan pangan bisa didapat dengan mudah; penyakit-penyakit yang dulu dianggap berbahaya pun, sekarang sudah bisa disembuhkan, semisal flu, tipes, polio, kolera, dsb. yang dulu sangat mengerikan dan tidak bisa sembuh, sekarang bisa sembuh dengan mudah.


Belum lagi manusia modern itu dimabukan oleh teknologi sehingga menggerus waktu yang mereka punya. Pernah tidak kalian membuka media sosial di HP kalian, tidak terasa, tahu-tahu waktu 20 menit sudah berlalu. Kurang lebih seperti itulah kesibukan kita sebagai manusia modern. Jika tidak dikontrol dengan baik, teknologi ini bisa membuat manusia lalai dalam beribadah dan mengingat tuhan.


Menurut hasil data statistik, manusia modern itu menghabiskan kurang lebih 7 jam di depan layar—termasuk layar HP, TV, dan komputer; baik untuk internetan, nonton acara streaming service, media sosial, maupun bermain video game.


Faktor lain yang dapat memengaruhi ketaatan beribadah adalah pengaruh budaya, pendidikan agama, dan akses terhadap tempat ibadah. Di zaman modern, banyak orang yang terpapar budaya dan pemikiran yang bertentangan dengan nilai-nilai agama. Selain itu, kesibukan dan gaya hidup modern juga membuat banyak orang sulit untuk meluangkan waktu untuk beribadah.



Masyarakat amoral

Gambar dari Canva (royalty-free license)

Salah satu dampak dari jauhnya manusia dari agama adalah perilaku amoral yang mulai marak di masyarakat. Manusia yang jauh dari agama cenderung kehilangan moral value dan tidak memiliki batasan dalam melakukan perbuatan buruk.


Kita dapat menilai sendiri penurunan moral masyarakat ini melalui berita di media sosial kita. Misalnya kasus perzinahan para pelakor; atau fenomena begal dan klitih, dimana anak-anak muda melakukan pembacokan secara random pada orang-orang di malam hari; atau juga misalnya kasus korupsi triliunan yang menjerat pejabat-pejabat negara kita. Fenomena ini menunjukkan bahwa manusia yang jauh dari agama kehilangan nilai-nilai moral dan etika yang diajarkan oleh agama.


Berikut saya rangkum efek negatif ketika manusia jauh dari agama:

  • Krisis makna dan tujuan: manusia akan mengalami krisis makna dan tujuan dalam hidup mereka ketika mereka menjauh dari agama. Hidup menjadi tidak jelas dan tanpa arah.
  • Kehilangan nilai-nilai moral: agama seringkali menjadi sumber nilai-nilai moral yang memberikan arahan tentang apa yang benar dan salah.
  • Kurangnya ketenangan batin: agama sering memberikan kenyamanan dan ketenangan batin kepada orang-orang dalam menghadapi tantangan hidup.
  • Meningkatnya Individualisme: ketika orang-orang menjauh dari agama, ada kecenderungan untuk meningkatnya individualisme dalam masyarakat. Orang-orang mungkin lebih fokus pada kebutuhan dan keinginan pribadi mereka sendiri daripada pada kebutuhan dan keinginan komunitas.
  • Kurangnya panduan dalam menghadapi krisis: agama sering memberikan panduan dan dukungan spiritual dalam menghadapi krisis kehidupan seperti kematian, sakit, atau kehilangan.

Secara tidak langsung, agama menjadi kontrol sosial di masyarakat. Agama juga berperan dalam mengontrol perilaku sosial dan mengatur norma-norma moral. Kehadiran agama memberikan dorongan untuk mematuhi aturan-aturan yang telah ditetapkan dalam agama tersebut. Bahkan tidak jarang aturan agama tersebut berubah menjadi aturan negara.


Semakin masyarakat dekat dengan agama, penyimpangan-penyimpangan sosial akan semakin berkurang di masyarakat. Sayangnya, semakin kesini orang-orang semakin tidak tertarik dengan agama.



Nasib agama di masa depan

Gambar dari Canva (royalty-free license)

Bagaimana nasib agama-agama ini kedepannya jika semua orang sudah tidak tertarik dengan agama?


Saya pribadi percaya bahwa suatu saat manusia akan kembali kepada agama di masa depan. Terutama ketika dunia ini sedang mengalami krisis, baik itu karena perubahan iklim maupun peperangan.


Walaupun kita sedang hidup rukun, damai, tentram sentosa. Sebenarnya dunia ini sedang tidak baik-baik saja. Kerusakan alam yang terjadi secara global sangat berdampak buruk pada iklim dunia. Menurut Unesco, pada 2050 dunia ini akan mengalami krisis air bersih sehingga berdampak pada ketersediaan pangan secara internasional.


Bayangkan jika ratusan juta hektar lahan pertanian gagal panen, semua orang akan kesulitan pangan. Kita akan kembali ke zaman serba susah. Negara adidaya akan mencari resource ke negara yang kaya pangan, dan pastinya peperangan akan kembali mencuat di seluruh dunia. Belum lagi bencana alam—seperti kebakaran hutan, banjir, dsb.—akan lebih mudah terjadi di masa depan.


Krisis iklim dan peperangan dapat meningkatkan rasa cemas, ketidakpastian, dan kekhawatiran dalam masyarakat. Dalam situasi-situasi seperti ini, agama dapat memberikan harapan, ketenangan, dan kekuatan spiritual bagi individu untuk menghadapi tantangan-tantangan tersebut. Di tengah-tengah krisis, orang-orang akan mulai mempertanyakan nilai-nilai makna yang lebih dalam dalam kehidupan mereka. Nah, pada saat itulah manusia akan kembali dekat pada ajaran agama.


Agama dapat memberikan makna dan tujuan hidup dalam situasi yang penuh dengan ketidakpastian. Agama juga dapat membantu individu untuk membangun ketahanan mental dan spiritual dalam menghadapi tantangan-tantangan hidup.



Memulai dari hal yang kecil

Gambar dari Canva (royalty-free license)

Memang betul, suatu saat manusia akan kembali dekat dengan agama. Tapi, itu masih lama. Sebelum semua itu terjadi kita harus bisa menanamkan nilai-nilai agama pada diri anak-anak dan cucu-cucu kita. Jangan sampai ketika mereka hidup di zaman serba susah, mereka mencari pelarian ke hal-hal tidak berguna seperti alkohol, narkotik, atau yang lebih parah malah mengakhiri hidup mereka sendiri. Naudzubillah.


Menanamkan nilai-nilai agama pada anak-anak sejak usia dini dapat membantu mereka untuk membangun karakter yang kuat, moralitas yang baik, dan ketangguhan mental dalam menghadapi berbagai tantangan hidup. Anak-anak yang memiliki nilai-nilai agama yang kuat akan lebih mampu untuk membedakan antara yang benar dan yang salah, serta memiliki kompas moral yang jelas dalam kehidupan mereka.


Kita mulai perubahan ini dari diri kita dulu, kita teruskan beribadah sesuai kepercayaan kita. Kita berikan contoh dengan menjadi menjadi pribadi yang baik di masyarakat dan berempati terhadap sesama. Selanjutnya, kita ajak anak-anak kita, saudara kita, orang tua kita, untuk menjadi ahli ibadah, beragama dengan taat dan mempelajari isinya.


Selain itu, kita juga dapat mengurangi waktu screen time, baik kita sendiri dan anak-anak, dan menggantinya dengan hal-hal positif. Misalnya, kita bisa menggunakan Youtube untuk mempelajari agama. Kita bisa mencari pemuka agama yang mengajarkan nilai-nilai kebaikan dan toleransi. Kita juga dapat mencari komunitas-komunitas keagamaan yang dapat membantu kita untuk tetap termotivasi dalam beribadah.


Solusi ini mungkin tampak sederhana, tetapi dapat membawa perubahan moral jangka panjang bagi Indonesia. Marilah kita bersama-sama menanamkan nilai-nilai agama pada setiap sendi kehidupan. Dengan demikian, kita dapat membangun generasi Indonesia emas yang berakhlak mulia dan berkontribusi positif bagi bangsa dan negara. Insyaallah.




Gambar dari Canva (royalty-free license)

Waktu optimal belajar bagi anak-anak

Memiliki anak yang cerdas dan berprestasi adalah dambaan setiap orang tua. Namun, tahukah kalian bahwa kunci utama untuk mencapai hal tersebut terletak pada pemilihan waktu belajar yang tepat?


Menurut penelitian, otak manusia bekerja paling optimal pada pukul 4 pagi hingga 7 pagi. Sayangnya, jadwal belajar formal di sekolah biasanya baru dimulai pada pukul 7.30 pagi, sehingga waktu emas belajar ini terlewatkan.


Begitupun juga ketika anak-anak ingin mengikuti bimbingan belajar (bimbel) yang umumnya diadakan di waktu pulang sekolah, seperti pada siang, sore, atau malam hari. Pada waktu-waktu tersebut, kemampuan otak anak-anak untuk menyerap informasi sudah menurun.


Belum lagi jika ditambah dengan jadwal sekolah yang padat, misalnya saja pada anak-anak yang bersekolah di sekolah Islam terpadu, yang memadukan kurikulum sekolah umum dan madrasah diniyah. Anak-anak ini baru bisa pulang sekitar pukul 4 sore. Belum lagi jika pulangnya terjebak macet, belum mereka harus makan malam, belum harus mandi, belum harus sembahyang. Mungkin si anak akan kembali punya waktu kosong di pukul 6 hingga pukul 7 malam.


Jika kita suruh lagi mereka untuk ikut bimbel, yang ada anak-anak akan "ngedumel" karena sudah tidak mood belajar. Bisa sih, kita paksakan. Tapi, nanti konsentrasi dan daya tangkap mereka menjadi berkurang karena sudah keburu malas dan capek. Itulah mengapa waktu pagi hari sangat dianjurkan untuk digunakan belajar.


Mengapa pagi hari merupakan waktu belajar yang ideal?

  • Otak yang Segar: Di pagi hari, otak anak-anak berada dalam kondisi paling segar dan fokus. Hal ini dikarenakan mereka telah beristirahat dengan cukup dan siap untuk menerima informasi baru.
  • Meningkatkan Daya Ingat: Penelitian menunjukkan bahwa daya ingat anak-anak lebih optimal di pagi hari. Hal ini berarti materi pelajaran yang dipelajari di pagi hari akan lebih mudah diingat dan dipahami.
  • Meningkatkan Konsentrasi: Di pagi hari, anak-anak umumnya lebih tenang dan tidak mudah teralihkan oleh hal-hal lain. Hal ini membuat mereka lebih mudah berkonsentrasi pada pelajaran.



Memilih bimbel yang tepat

Gambar dari Canva (royalty-free license)

Setelah mengetahui waktu belajar yang ideal untuk anak-anak, langkah selanjutnya adalah memilih tempat bimbel yang tepat. Bimbel harus dapat mengakomodasi waktu belajar pagi hari dan memberikan metode belajar yang efektif.

Itulah mengapa, saya merekomendasikan Kumon sebagai tempat bimbel pilihan, yang merupakan tempat bimbel Matematika anak dan tempat les Bahasa Inggris anak yang sudah terpercaya sejak 1958.


Mengapa Kumon?

  • Metode self-learning: Kumon menggunakan metode self-learning dalam bentuk lembar kerja soal yang bisa dikerjakan di rumah. Hal ini memungkinkan anak-anak untuk belajar di pagi hari, sesuai dengan waktu optimal otak mereka.
  • Jadwal fleksibel: Mayoritas kegiatan bimbel di Kumon dilakukan secara mandiri di rumah, dengan tatap muka dengan pembimbing hanya 2 kali per minggu untuk evaluasi. Jadwal tatap mukanya pun fleksibel, bisa diikuti di hari Sabtu-Minggu, sehingga tidak mengganggu kegiatan sekolah.

Metode self-learning dan jadwal yang fleksibel ini bisa memaksimalkan potensi anak-anak di pagi hari. Setelah anak-anak bangun, sembahyang subuh, dan sarapan, mereka bisa langsung mengerjakan soal-soal dari Kumon. Bahkan, ketika perjalanan menuju sekolah pun, mereka bisa sambil mengerjakan soal Kumon di dalam mobil.



Kumon Connect: kelas tanpa batas

Gambar dari Canva (royalty-free license)

Kumon terus berinovasi untuk memberikan pengalaman belajar terbaik bagi anak-anak. Kini, Kumon menghadirkan Kumon Connect, aplikasi pembelajaran Kumon Digital melalui tablet berbasis Android dan iOS. Kumon Connect menawarkan les Matematika online dan/atau kursus Bahasa Inggris online yang terintegrasi dengan metode pembelajaran Kumon yang telah terbukti efektif.


Kumon versi biasa saja sudah sangat fleksibel dalam mengakomodir waktu belajar para siswanya, apalagi sekarang ada versi digitalnya. Anak-anak bisa mengerjakan soal lebih mudah tanpa perlu membawa alat tulis dan modul lembar kerja Kumon, sehingga anak-anak bisa belajar kapanpun dan dimanapun, tanpa batas. Misalnya saat mudik lebaran, anak-anak bisa mengerjakan lembar kerja Kumon dengan ditemani kakek dan nenek di kampung halaman.


Kita juga sebagai orang tua bisa memantau progres anak-anak melalui aplikasi Kumon Connect. Kita bisa mengetahui level kemampuan anak-anak sudah sejauh mana dalam belajar. Jadinya, setiap biaya yang kita keluarkan untuk membayar bimbel, benar-benar menjadi investasi yang maksimal untuk anak-anak kita di kemudian hari.


Bahkan, untuk evaluasi dengan guru pembimbing pun, bisa dilakukan hanya melalui aplikasi saja, tanpa perlu tatap muka langsung. Ini sangat berguna sekali, terutama jika ada faktor eksternal yang menghambat anak-anak untuk belajar; misalnya seperti saat kemarin pandemi Covid, ataupun saat cuaca tidak mendukung untuk keluar rumah, misalnya karena ada banjir atau hujan lebat. Benar-benar sangat fleksibel.


Walaupun begitu, orang tua juga tetap harus ikut memantau kegiatan anak-anak saat mengerjakan soal di tablet mereka, agar saat mereka mengerjakan soal, tidak berpindah ke aplikasi lain seperti Youtube atau game. Hal ini bisa dilakukan langsung oleh para orang tua, sambil mereka mengerjakan soal, kita pantau dan tunggu mereka; atau bisa juga kita pantau mereka melalui aplikasi Google Family Link yang bisa dipasang ke tablet berbasis Android, sehingga aplikasi non Kumon, bisa dimatikan sementara selama anak-anak mengerjakan soal. Praktis, kan?


Ayo, tunggu apalagi, ajak anak-anak kita, saudara-saudara kita, untuk mengikuti Kumon agar bisa memaksimalkan potensi mereka dalam belajar.


Gambar milik pribadi


Artikel ini adalah artikel "made for minds" mengenai local hero yang diikutkan dalam lomba menulis blog di situs MyRepublic yang merupakan provider tv kabel dan internet super cepat di Indonesia, Singapura, dan New Zealand. Pada kesempatan ini, saya akan menceritakan Emak, seorang local hero ditempat saya bekerja.


Emak
Gambar milik pribadi

Emak adalah seorang ibu rumah tangga yang bekerja merangkap sebagai seorang cleaning services (CS) di klinik tempat saya bekerja. Usianya sudah menginjak 50 tahun lebih, tetapi dia tetap giat bekerja demi menghidupi 6 orang anaknya karena suaminya sudah sakit-sakitan.

Di klinik kecil ini, setiap pagi, Emak selalu datang untuk membereskan dan membersihkan klinik hingga malam hari. Jika sedang ramai pasien, Emak terkadang membawa anak-anaknya yang masih kecil ke klinik demi menuntaskan kewajibannya. Jika sudah kelelahan sekali, Emak sering tertidur di kasur pasien.

Ketekunannya Emak dan sifatnya yang sopan selalu membuat para pegawai di klinik iba dengan keadaannya Emak. Mereka terkadang memberi Emak uang atau sembako ala kadarnya untuk menunjang kehidupannya Emak. [tv kabel]


Pelindung diri
Gambar milik pribadi

Saya dan teman-teman di klinik sering mengingatkan Emak untuk memakai alat pelindung diri (APD), berupa masker dan sarung tangan, saat membersihkan klinik. Hal ini dikarenakan Emak jarang menggunakan APD saat membersihkan klinik. Bukannya kenapa-kenapa, jika membersihkan klinik tanpa APD, takutnya Emak tertular berbagai penyakit dari pasien.

Tapi apalah daya, walaupun sudah diingatkan, Emak sering lupa menggunakan APD. Emak hanyalah seorang lulusan SD yang belum mengerti arti pentingnya perlindungan diri. Ditambah lagi, jumlah dan anggaran untuk APD di klinik sekecil ini sangatlah terbatas sehingga mengharuskan Emak bekerja tanpa pelindung diri. Miris memang. Akan tetapi, seperti inilah rata-rata gambaran keadaan para cleaning services di tempat-tempat pelayanan kesehatan di Indonesia. [smart tv]


Masih banyak yang lainnya
Gambar dari pixabay

Emak adalah salah satu contoh dari jutaan orang cleaning services yang mencari nafkah di tempat-tempat pelayanan kesehatan, yang notabene adalah tempat yang penuh penyakit. Gaji mereka tidaklah sebanding dengan resiko pekerjaan yang luar biasa tinggi.

Cleaning services di tempat-tempat pelayanan kesehatan yang sudah maju, seperti rumah sakit standar internasional atau rumah sakit dengan akreditasi A, sudah menerapkan penggunaan APD dengan baik. Rata-rata para cleaning services sudah diberikan pelatihan khusus mengenai penanganan limbah medis.

Para cleaning services di tempat-tempat pelayanan kesehatan daerah yang masih minim fasilitas, seperti klinik kecil atau puskesmas, terkadang melakukan tugas ala kadarnya. Rata-rata mereka ini hanyalah lulusan SD hingga SMA yang belum pernah mendapat pelatihan khusus. Mereka jarang atau malah tidak pernah menggunakan APD karena mereka belum mengerti pentingnya APD untuk melindungi diri dari kontaminasi penyakit. [tv kabel]


Sebuah kasus lainnya
Gambar dari pixabay

Sebagai contoh lainnya adalah para cleaning services yang bekerja di rumah sakit yang masih belum teregulasi dengan baik dan belum terakreditasi. Di rumah sakit seperti ini cukup banyak cleaning services yang belum menggunakan APD lengkap.

Misalnya ketika pasien kecelakaan lalu lintas datang ke Instalasi Gawat Darurat (IGD) suatu rumah sakit, darah bercucuran dimana-mana. Dokter sibuk memberi komando kepada para perawat untuk melakukan tindakan gawat darurat. Perawat pun sibuk melakukan tugasnya masing-masing. Setelah keadaan pasien stabil, barulah dokter dan perawat istirahat. Kemudian, para cleaning services-lah yang membereskan semua "kekacauan" yang baru saja terjadi. Mereka dengan sigap dan cepat harus membersihkan sisa-sisa darah yang bercucuran tersebut sebelum ada pasien baru yang datang.

Cairan tubuh, baik darah, liur, dahak, dsb. merupakan media penyebaran virus dan bakteri, dari mulai yang ringan hingga yang berbahaya dan mematikan seperti virus HIV dan Hepatitis C. Jika tidak menggunakan APD yang baik dan lengkap, resiko tertularnya sangatlah besar.

Lalu bagaimana nasib mereka para cleaning services yang bekerja tanpa APD lengkap? Apa jadinya jika mereka tertular? Bagaimana nasib keluarga mereka? Bagaimana nanti biayanya? Mereka hanyalah "wong cilik" yang menjadi korban belum sempurnanya sistem kesehatan di negara ini. [smart tv]


Local hero in our health care systems
Gambar dari pixabay

Sehebat apapun dokter dalam mendiagnosis suatu penyakit; Sehebat apapun dokter kandungan melahirkan seorang bayi; Sehebat apapun dokter bedah melakukan tindakan operasi; Tetap saja, akhir-akhirnya yang membereskan semua pekerjaan mereka adalah para cleaning services.

Mereka adalah pahlawan bagi para tenaga kesehatan dalam bekerja. Mereka adalah pahlawan bagi para pasien mencegah penularan penyakit antar pasien. Mereka adalah pahlawan bagi keluarganya dalam mencari nafkah. Dengan penuh resiko dan gaji yang minim, mereka adalah pahlawan tak terlihat di lingkungan kesehatan.
 
Semoga kedepannya, baik pemerintah maupun para pemilik pelayanan kesehatan dapat mensejahterakan mereka para cleaning services. Walaupun tidak dalam bentuk uang, minimal mereka diberikan peralatan APD yang layak untuk bisa menjalani tugasnya dengan baik dan aman bagi kesehatan mereka. [tv kabel]