Tampilkan postingan dengan label Opini. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Opini. Tampilkan semua postingan

 



The popularity of VR
Virtual Reality (VR) merupakan teknologi yang sudah ada sejak tahun 70-an. Pada saat tersebut penggunaan VR terbatas digunakan hanya untuk research dan penelitian saja. Seiring berjalannya waktu dan berkembangnya teknologi, VR ini mulai mengalami kemajuan hingga masuk tahun 2000-an.

Baru pada 2012-an, VR ini kembali populer oleh Oculus Rift dengan memperkenalkan teknologi VR untuk bermain game. Oculus Rift Development Kit 1 (DK1) mulai dijual dipasaran pada 2012 via Kickstarter. Saya mulai kenal dan subscribe ke Pewdiepie pun, karena research saya terhadap VR ini di tahun 2013.

Sekarang, VR headset sudah banyak jenisnya dan banyak merknya, Oculus bukan pemain sendiri seperti dulu, sekarang ada Vive dari HTC, Reverb G dari HP, Vision 8K dari Pimax, dan my favorite, INDEX dari Valve. Bahkan Playstation pun, sejak era PS4, sudah punya hardware VR khusus untuk console mereka sendiri yang diberi nama PSVR.


VR Game

Sejak dipopulerkan oleh Oculus hingga saat ini, VR tetap sangat populer untuk digunakan bermain game dibandingkan untuk keperluan lain. Sudah banyak game ber-genre VR ini dapat ditemui di marketplace game digital seperti Steam. Mulai dari yang bergenre action, simulation, hingga genre pendidikan pun ada.

Valve sebagai pioneer banyak teknologi di industri video game sempat menggebrak industri game VR dengan game Half Life: Alyx pada 2020 lalu, game yang didesain secara khusus untuk platform VR ini merupakan masterpiece dari semua game VR. 

 

The best VR headset
Untuk sementara, hingga akhir 2021, dari hasil review pengguna dan spesifikasi yang diberikan, HTV Vive Pro 2 adalah VR unit dengan headset terbaik. Resolusi VR headset ini merupakan yang terbaik diantara semuanya, 4896 x 2448 dengan refresh rate 90 Hz, dan bisa ditambah hingga 120 Hz. Headsetnya nyaman digunakan, bisa tethering via 5.5 GHz wifi ke PC, build in earphone-nya bisa 3D audio, dsb.

Walaupun bisa tethering via 5.5Ghz wifi, tapi resolusi dan refresh rate-nya tidak bisa ditampilkan maksimal seperti menggunakan kabel, resolusinya dibatasi hingga 1224x1224 per eye, dan refresh rate-nya pun hanya bisa mencapai 90hz. Tapi untuk sekarang, angka ini cukup impressive. 

 

The best VR controller
Untuk controller-nya, hingga tahun 2022 ini, Valve Index adalah merupakan VR hardware dengan hand controller terbaik untuk bermain game VR, finger movement-nya adalah yang terbaik dikelasnya dan belum bisa ditiru oleh controller lain.

 


Controller generasi ke-2 dari PSVR untuk PS5, ikut mengadopsi teknologi dari controller Valve Index ini, let's wait and see, bagaimana hasil dan performanya saat release nanti. Hingga saat ini, baru ada announcement saja dari Sony, tapi belum ada release date-nya.


Enter the VR
Untuk sekarang, ada 4 cara untuk bisa menjalankan dan menikmati VR ini:

  1. Menggunakan VR yang ter-tether ke PC, via kabel atau wireless.
  2. Menggunakan VR yang sudah ada hardware didalamnya, seperti Oculus Quest.
  3. Menggunakan VR yang ter-tether ke gaming streaming service seperti Nvidia GeForce Now atau Google Stadia.
  4. Menggunakan HP sebagai VR headset, seperti Google Cardbox.

Yang terbaik, tetap VR headset yang ter-tether ke PC kita via kabel, resolusi yang ditampilkan bisa hingga resolusi 5K, refresh rate-nya pun bisa hingga 120 Hz, sehingga mata kita tidak cepat lelah saat menggunakan VR headset berjam-jam.

Kelemahan dari VR headset yang ter-tether ke PC adalah kita butuh hardware super powerful untuk bisa menampilkan resolusi tinggi dengan refresh rate tinggi, yang otomatis butuh uang banyak. Untuk PC-nya saja, kita butuh dana sekitar 20 hingga 30 jutaan, belum VR headsetnya yang harganya bisa sama seperti PC-nya. Ya, minimal mesti siap dana 50 hingga 100 jutaan jika ingin bermain VR secara nyaman.

Untuk lebih hemat, ada alternatif VR headset yang sudah ada hardware, processor dan graphic card, didalam VR headset-nya. Salah satunya adalah Oculus Quest, salah satu VR headset yang bisa digunakan tanpa harus tethering, harganya saat ini kurang lebih 5 jutaan.

Walaupun begitu, VR headset yang sudah ada hardware didalamnya, akan cukup dilematik saat digunakan; pertama, hardware yang tertanam di VR headset tersebut performanya mediocre dan tidak se-powerful saat tether ke PC; kedua, panas yang dihasilkan oleh hardware yang berada di VR headset akan mengganggu kenyamanan saat digunakan jangka panjang; ketiga, berat VR pun akan bertambah sehingga membuat kepala lebih berat dan tidak nyaman jika digunakan jangka panjang.

Untuk mengakali kekurangan hardware dari VR headset, kita bisa menggunakan gaming streaming service sebagai alternatif. Pihak penyedia jasa streaming menyediakan hardware untuk kita, lalu kita tinggal stream saja game-nya ke PC via Internet, lalu sinyalnya dikirim ke VR headset kita, baik via kabel ataupun wireless.

Secara teori sih, memang gaming streaming service ini kedengaran menarik, tapi secara realita tidak begitu. Gaming streaming service untuk saat ini belum se-powerful dan sepopuler film dan TV streaming service, keterbatasan sinyal dari server ke user merupakan kendala utama dalam menggunakan gaming streaming service ini, butuh koneksi broadband internet yang super cepat ataupun koneksi 5G yang stabil agar bisa menjalankan gaming streaming service dengan resolusi terbaik. Kecepatannya dip saja sedikit, akan mempengaruhi performance saat bermain game VR, resolusinya tiba-tiba turun lah, refresh rate-nya naik turun lah, dsb.

Dan, ada satu cara lagi untuk bisa menikmati VR tanpa harus beli VR headset yang ribet, yaitu dengan menggunakan HP kita sebagai VR headset, kita masukan HP kita kedalam alat tertentu, lalu kita pasang di kepala kita.

Performance-nya, jika menggunakan HP dengan spesifikasi yang powerful, bisa lebih baik dari VR headset yang sudah ada hardware di dalamnya seperti Oculus Quest.

Sayangnya, optimalisasi hardware untuk menempelkan HP didepan mata kita masih sangat terbatas, jarak mata ke HP, glare efek dari HP, resolusi dari HP, dsb. masih merupakan kekurangan yang akan cukup lama di optimalisasi kedepannya.

Selain itu, dari sisi software pun masih terkendala dari ukuran resolusi dan refresh rate yang beragam antara 1 HP dengan Hp yang lainnya, sehingga optimalisasi software akan cukup memakan waktu. Belum lagi ditambah optimalisasi software penunjang untuk mata tiap orang yang beragam, mulai yang matanya minus hingga plus, optimalisasi jarak HP ke mata, dsb.

Menurut artikel dari The Verge, Google sudah menghentikan proyek VR mereka sejak 2019 karena minimnya pengguna VR dan Samsung pun sudah menyetop produksi Samsung Gear VR, perangkat untuk menyambungkan HP ke kepala.

Menurut saya pribadi, agar lebih bisa diterima masyarakat, VR yang ideal itu harus bisa mengkombinasikan antara poin 3 dan 4, yaitu mengkombinasikan HP yang disulap jadi VR headset, ditambah koneksi ke gaming streaming service, sehingga bisa memangkas cost untuk tidak membeli hardware PC yang mahal dan hardware VR headset yang ribet.


Mr. Zuckerberg’s metaverse
Metaverse secara singkat adalah dunia 3D virtual, mirip seperti manga/anime Sword Art Online ataupun novel/film Ready Player One, dimana kita masuk kedunia VR, lalu berinteraksi dengan orang secara digital.

Tahun lalu Mark Zuckerberg menggagas ide ini agar bisa digunakan khalayak banyak, karena memang dia memiliki kepentingan karena telah membeli perusahaan VR, Oculus, sejak 2014 lalu.



Apakah sekarang kita sudah bisa memasuki dunia metaverse? Tentu bisa, tapi hanya sebagian orang "early adopter" saja yang sanggup beli VR headset yang baru bisa menikmati metaverse ini.

Untuk game yang bersifat metaverse ini, baru dimiliki Oculus dengan nama Horizon World, game-nya mirip seperti The Sims online, tapi VR.

Sama seperti teknologi yang lain, VR ini akan maju dan populer dikemudian hari, tapi bukan sekarang. Saya rasa dengan keterbatasan teknologi saat ini, VR tidak akan dulu populer hingga 5 hingga 10 tahun kedepan, bahkan untuk di Indonesia, bisa hingga 15 tahun kedepan agar bisa mainstream di masyarakat.

Sama seperti mobil listrik yang baru keluar di awal tahun 2000-an, atau sama seperti internet yang keluar di akhir tahun 90-an, VR ini masih baru masuk tahap “populer” tapi belum mainstream. Butuh waktu untuk infrastruktur yang mendukung VR ini maju.

VR ini teknologi yang masih mahal, PC untuk menjalankan VR secara “optimal” sangat mahal, bahkan untuk beli VR headset paling murah seharga 5 jutaan pun masyarakat pasti mikir-mikir dulu.

Saya kembali ulangi sekali lagi, agar lebih bisa diterima masyarakat, VR yang ideal itu harus bisa mengkombinasikan antara HP yang disulap jadi VR headset ditambah koneksi ke gaming streaming service, sehingga bisa memangkas cost untuk tidak membeli hardware PC yang mahal dan hardware VR headset yang ribet.

Teknologi hardware VR terus disempurnakan, walaupun berjalan pelan, tapi perkembangannya pasti. Saya rasa kedepannya, teknologi HP yang disulap menjadi VR akan lebih mumpuni baik secara hardware dan software.


Invest in VR company
Apakah sekarang kita perlu invest di perusahaan startup yang berbau VR? Menurut saya pribadi, untuk sekarang tidak dulu. Kenapa? karena teknologinya masih jauh dari kata sempurna, banyak kemungkinan perusahaannya akan failure di kemudian hari karena minim konsumen-nya.

Niche pengguna VR sangat kecil sekali, data dari Steam per desember 2021 menunjukan kurang lebih hanya 2% pengguna Steam yang bermain game dengan VR. Dari 2% ini, yang menggunakan Oculus Quest adalah yang terbanyak seperti pada chart berikut:



Saran dari saya tunggu 5-10 tahun lagi untuk invest di perusahaan terbaik yang berbasis VR, baik perusahaan hardware VR ataupun software VR. Jangan sampai dana investasi kita “lapur” oleh perusahaan yang berpotensi rapot merah.


Microsoft, the king of gaming content
Saya rasa langkah Microsoft ketika akhir bulan ini membeli Activision-Blizzard, bahkan beberapa tahun lalu membeli Mojang dan Bethesda, adalah langkah awal mereka untuk mengembangkan gaming streaming service di kemudian hari. Hingga nantinya, nge-game dan nge-VR tidak perlu pagi pake hardware powerful, cukup koneksi internet super cepat saja, urusan hardware-nya, biar mereka yang handle.


What’s next?
Saya selalu optimis dengan VR ini, saya yakin prospeknya akan sangat bagus sekali di kemudian hari, tapi sayangnya, bukan hari ini, bukan bulan ini, ataupun bukan tahun ini. Butuh waktu untuk infrastruktur yang menunjang VR ini maju, mulai dari broadband internet yang harus lebih cepat dari sekarang, sinyal 5G yang merata dan stabil, serta penyempurnaan sebuah HP agar bisa digunakan menjadi VR headset. Nah, kalau semua itu tercapai, maka VR ini akan bisa diterima dan digunakan luas oleh masyarakat di seluruh dunia. Let's just wait and see.

Gambar milik pribadi


Artikel ini adalah artikel "made for minds" mengenai local hero yang diikutkan dalam lomba menulis blog di situs MyRepublic yang merupakan provider tv kabel dan internet super cepat di Indonesia, Singapura, dan New Zealand. Pada kesempatan ini, saya akan menceritakan Emak, seorang local hero ditempat saya bekerja.


Emak
Gambar milik pribadi

Emak adalah seorang ibu rumah tangga yang bekerja merangkap sebagai seorang cleaning services (CS) di klinik tempat saya bekerja. Usianya sudah menginjak 50 tahun lebih, tetapi dia tetap giat bekerja demi menghidupi 6 orang anaknya karena suaminya sudah sakit-sakitan.

Di klinik kecil ini, setiap pagi, Emak selalu datang untuk membereskan dan membersihkan klinik hingga malam hari. Jika sedang ramai pasien, Emak terkadang membawa anak-anaknya yang masih kecil ke klinik demi menuntaskan kewajibannya. Jika sudah kelelahan sekali, Emak sering tertidur di kasur pasien.

Ketekunannya Emak dan sifatnya yang sopan selalu membuat para pegawai di klinik iba dengan keadaannya Emak. Mereka terkadang memberi Emak uang atau sembako ala kadarnya untuk menunjang kehidupannya Emak. [tv kabel]


Pelindung diri
Gambar milik pribadi

Saya dan teman-teman di klinik sering mengingatkan Emak untuk memakai alat pelindung diri (APD), berupa masker dan sarung tangan, saat membersihkan klinik. Hal ini dikarenakan Emak jarang menggunakan APD saat membersihkan klinik. Bukannya kenapa-kenapa, jika membersihkan klinik tanpa APD, takutnya Emak tertular berbagai penyakit dari pasien.

Tapi apalah daya, walaupun sudah diingatkan, Emak sering lupa menggunakan APD. Emak hanyalah seorang lulusan SD yang belum mengerti arti pentingnya perlindungan diri. Ditambah lagi, jumlah dan anggaran untuk APD di klinik sekecil ini sangatlah terbatas sehingga mengharuskan Emak bekerja tanpa pelindung diri. Miris memang. Akan tetapi, seperti inilah rata-rata gambaran keadaan para cleaning services di tempat-tempat pelayanan kesehatan di Indonesia. [smart tv]


Masih banyak yang lainnya
Gambar dari pixabay

Emak adalah salah satu contoh dari jutaan orang cleaning services yang mencari nafkah di tempat-tempat pelayanan kesehatan, yang notabene adalah tempat yang penuh penyakit. Gaji mereka tidaklah sebanding dengan resiko pekerjaan yang luar biasa tinggi.

Cleaning services di tempat-tempat pelayanan kesehatan yang sudah maju, seperti rumah sakit standar internasional atau rumah sakit dengan akreditasi A, sudah menerapkan penggunaan APD dengan baik. Rata-rata para cleaning services sudah diberikan pelatihan khusus mengenai penanganan limbah medis.

Para cleaning services di tempat-tempat pelayanan kesehatan daerah yang masih minim fasilitas, seperti klinik kecil atau puskesmas, terkadang melakukan tugas ala kadarnya. Rata-rata mereka ini hanyalah lulusan SD hingga SMA yang belum pernah mendapat pelatihan khusus. Mereka jarang atau malah tidak pernah menggunakan APD karena mereka belum mengerti pentingnya APD untuk melindungi diri dari kontaminasi penyakit. [tv kabel]


Sebuah kasus lainnya
Gambar dari pixabay

Sebagai contoh lainnya adalah para cleaning services yang bekerja di rumah sakit yang masih belum teregulasi dengan baik dan belum terakreditasi. Di rumah sakit seperti ini cukup banyak cleaning services yang belum menggunakan APD lengkap.

Misalnya ketika pasien kecelakaan lalu lintas datang ke Instalasi Gawat Darurat (IGD) suatu rumah sakit, darah bercucuran dimana-mana. Dokter sibuk memberi komando kepada para perawat untuk melakukan tindakan gawat darurat. Perawat pun sibuk melakukan tugasnya masing-masing. Setelah keadaan pasien stabil, barulah dokter dan perawat istirahat. Kemudian, para cleaning services-lah yang membereskan semua "kekacauan" yang baru saja terjadi. Mereka dengan sigap dan cepat harus membersihkan sisa-sisa darah yang bercucuran tersebut sebelum ada pasien baru yang datang.

Cairan tubuh, baik darah, liur, dahak, dsb. merupakan media penyebaran virus dan bakteri, dari mulai yang ringan hingga yang berbahaya dan mematikan seperti virus HIV dan Hepatitis C. Jika tidak menggunakan APD yang baik dan lengkap, resiko tertularnya sangatlah besar.

Lalu bagaimana nasib mereka para cleaning services yang bekerja tanpa APD lengkap? Apa jadinya jika mereka tertular? Bagaimana nasib keluarga mereka? Bagaimana nanti biayanya? Mereka hanyalah "wong cilik" yang menjadi korban belum sempurnanya sistem kesehatan di negara ini. [smart tv]


Local hero in our health care systems
Gambar dari pixabay

Sehebat apapun dokter dalam mendiagnosis suatu penyakit; Sehebat apapun dokter kandungan melahirkan seorang bayi; Sehebat apapun dokter bedah melakukan tindakan operasi; Tetap saja, akhir-akhirnya yang membereskan semua pekerjaan mereka adalah para cleaning services.

Mereka adalah pahlawan bagi para tenaga kesehatan dalam bekerja. Mereka adalah pahlawan bagi para pasien mencegah penularan penyakit antar pasien. Mereka adalah pahlawan bagi keluarganya dalam mencari nafkah. Dengan penuh resiko dan gaji yang minim, mereka adalah pahlawan tak terlihat di lingkungan kesehatan.
 
Semoga kedepannya, baik pemerintah maupun para pemilik pelayanan kesehatan dapat mensejahterakan mereka para cleaning services. Walaupun tidak dalam bentuk uang, minimal mereka diberikan peralatan APD yang layak untuk bisa menjalani tugasnya dengan baik dan aman bagi kesehatan mereka. [tv kabel]