Menghitung "Nasib" Masjid


Jika kita perhatikan masjid-masjid di sekitar rumah kita jumlah jama'ahnya sungguh memprihatinkan. Terkadang hanya terisi satu shaf, atau bahkan kurang. Jama’ah masjid ini bukannya bertambah, tetapi makin beriringnya waktu malah makin berkurang.

Dilihat dari rata-rata kunjungan ke masjid berdasarkan usianya, jama’ah yang rutin sholat di masjid rata-rata berusia 40 tahun keatas. Dari mulai jama'ahnya, imamnya, hingga muadzinnya, semuanya sudah mulai berusia udzur.

Jama'ah yang berusia dibawah 40 tahun itu hanya datang ke masjid disaat-saat tertentu saja. Misalnya saat jam istirahat kerja atau jam istirahat sekolah pada waktu dzuhur. Atau saat sedang ada dirumah pada saat Ashar atau Maghrib. Hanya ada 1 atau 2 orang saja yang datang untuk sholat berjamaah di waktu-waktu sulit seperti Isya dan Subuh.

Masyarakat modern disibukan dengan kecanggihan teknologi yang membuat mereka betah di rumah. Internet, siaran Televisi, dan video game adalah salah satu contohnya. hal ini membuat tidak adanya "pergantian pemain" di masjid.

Mari kita hitung dengan matematika sederhana probabilitas keadaan jama’ah masjid di masa depan:

Kita misalkan semua jam’ah masjid yang rutin mengisi masjid itu berusia 40 tahun.
Dan usia harapan hidup jama'ah tersebut adalah 65 tahun.
65 - 40 = 25

Maka dalam waktu 25 tahun kedepan masjid itu akan kosong.

Itu hanya 25 tahun kedepan, bagaimana 50 atau 100 tahun kedepan!? Mungkin kita tidak akan mendengar suara adzan dan melihat orang sholat berjama'ah lagi dimasa depan. Naudzubillahimindzalik.

Oleh karena itu mari kita sejahterakan masjid dari sekarang. Kita mulai dengan diri sendiri sholat di masjid. Selanjutnya kita ajarkan kepada anak-anak kita untuk ikut mensejahterakan masjid. Karena jika bukan kita yang mensejahterakan masjid, maka siapa lagi!?

0 Komentar:

Poskan Komentar