3 Dokter Yang Mengoperasi Dirinya Sendiri


Seorang dokter yang mengoperasi pasien sudahlah hal biasa. Bagaimana jika terjadi kasus kegawat daruratan yang mengharuskan seorang dokter untuk mengoperasi dirinya sendiri? Tentunya akan berbeda dari biasanya. Berikut adalah 3 kasus dokter yang mengoperasi diri mereka sendiri:


3. dr. Jerri Lin Nielsen
dr. Jerri adalah seorang dokter wanita yang ditugaskan di lembaga riset Amundsen–Scott milik Amerika Serikat di Kutub Selatan pada tahun 1999. Kala itu terjadi badai salju besar yang bisa terjadi hingga enam bulan lamanya, mengakibatkan seluruh kru terisolasi.

Ketika badai berlangsung, dr. Jerri menemukan ada benjolan di payudaranya. Pada pemeriksaan fisik dia menduga benjolan itu merupakan suatu kanker. dr. Jerri merasa bingung karena diluar badai salju yang terjadi cukup parah.

Karena dr. Jerri adalah satu-satunya dokter di tempat penelitian itu, dia terpaksa meminta bantuan dokter pusat dari Amerika Serikat dengan menggunakan telewicara (webcam) via satelit. Dikhawatirkan keganasaannya menyebar, dr. Jerri akhirnya memberanikan diri melakukan biopsi payudaranya sendiri dibantu oleh dokter pusat melalui telewicara.

Hasil biopsinya kemudian dia kirimkan via internet satelit untuk di teliti oleh dokter-dokter pusat. Setelah menunggu beberapa hari, hasil biopsinya akhirnya keluar. Memang ternyata betul, benjolan pada payudara dr. Jerri adalah merupakan sebuah sel kanker.

Karena darurat, akhirnya dr. Jerri dikirimkan supply obat-obatan kemoterapi dari pusat. Walaupun badai salju masih berlanjut, pesawat pengirim supply obat-obatan kemoterapi tetap datang walau tidak mendarat. Supply obat-obatan tersebut diterjunkan oleh pesawat di lembaga riset Amundsen-Scott dengan bantuan sinyal api.


2. dr. Evan O'Neill Kane
dr. Evan adalah dokter senior yang berpengalaman. Dia pernah melakukan banyak operasi selama hidupnya. Tetapi yang paling menggemparkan dunia kala itu adalah bagaimana dia melakukan operasi appendictomy (operasi usus buntu) terhadap dirinya sendiri.

Pada tahun 1921, saat dr. Evan berusia 60 tahun, dia mulai merasakan keluhan appendicitis (peradangan usus buntu). Saat itu dr. Evan mendapat ide untuk melakukan operasi sendiri dengan alasan ingin mencoba operasi dari sudut pandang pasien.

Sebelum operasi berlangsung, dr. Evan hanya dibius dengan menggunakan bius lokal. Lalu dengan dibantu cermin dan beberapa asisten medis, dr. Evan melakukan operasi tersebut seorang diri.

Selain tindakan operasi usus buntu sendiri, dr. Evan pernah mengamputasi jari tangannya sendiri. Lalu saat usianya 70 tahun, dia melakukan operasi herniorrhaphy (operasi perbaikan hernia) pada hernia inguinalis yang dia derita. Selama hidupnya dr. Evan sudah 3 kali mengoperasi tubuhnya sendiri.


1. dr. Leonid Rogozov
dr. Leonid adalah satu-satunya dokter yang bertugas mengikuti ekspedisi Rusia ke Antartika pada tahun 1961. Bersama 13 orang lainnya, dia ditempatkan di Novolazarevskaya Station.

Saat berada disana dia merasakan rasa tidak enak di bagian perut kanannya. Dia sudah mulai curiga tanda-tanda appendicitis (peradangan usus buntu). Semakin hari rasa nyerinya semakin hebat, badannya demam menggigil, dia curiga infeksinya sudah meluas.

Buruknya komunikasi akibat badai salju dan jarak pusat kesehatan yang sangat jauh memperkeruh suasana. dr. Leonid tidak punya pilihan lain sebelum usus buntunya perforasi (pecah) dia harus segera bertindak. Dengan dibantu oleh sopir dan beberapa orang meteorologis, dia melakukan operasi appendictomy (operasi usus buntu) sendiri. dr. Leonid melakukan bius lokal sebelum operasi dengan Novocaine. Lalu saat operasi dia menggunakan cermin sebagai pemandu operasi.

Berikut adalah cerita dr. Leonid saat mengoperasi dirinya sendiri dari jurnal yang dia tulis (dikutip dari The Atlantic):
I worked without gloves. It was hard to see. The mirror helps, but it also hinders -- after all, it's showing things backwards. I work mainly by touch. The bleeding is quite heavy, but I take my time -- I try to work surely. Opening the peritoneum, I injured the blind gut and had to sew it up. Suddenly it flashed through my mind: there are more injuries here and I didn't notice them ... I grow weaker and weaker, my head starts to spin. Every 4-5 minutes I rest for 20-25 seconds. Finally, here it is, the cursed appendage! With horror I notice the dark stain at its base. That means just a day longer and it would have burst and ...
At the worst moment of removing the appendix I flagged: my heart seized up and noticeably slowed; my hands felt like rubber. Well, I thought, it's going to end badly. And all that was left was removing the appendix ... And then I realised that, basically, I was already saved.

Lima hari setelah operasi demam dr. Leonid mulai reda. Dua minggu kemudian dr Leonid sudah bisa bekerja kembali seperti semula. Semua tindakan yang dia lakukan di dokumentasikan dan dijadikan jurnal case report.


Sumber


0 Komentar:

Poskan Komentar